LAPORAN TENGAH PROYEK
PERIODE 1 FEBRUARI 2016 – 31 JULI 2016
| 1 | Wilayah Pendanaan | Indonesia, NTT, Manggarai Timur: Desa Golo Lijun, Desa Nampar Sepang, dan Desa Nanga Mbaur |
| 2 | KBA | Pota |
| 3 | Strategic Direction | 1. Mendukung pengelolaan Sumber Daya Alam berkelanjutan yang dilakukan oleh masyarakat di kawasan dan koridor prioirtas
2. Perlindungan Komodo/Rugu/Mbau/Mbou dan Habitatnya di desa Golo Lijun, Nampar Sepang, dan Nanga Mbaur. 3. Terbangunnya kapasitas lokal dalam pengelolaan SDA secara berkelanjutan di KBA Pota (Perlindungan habitat komodo, pertanian berkelanjutan, dan pemberdayaan ekonomi mikro) |
| 4 | Nama Proyek | Perlindungan Komodo (Varanus Komodoensis) dan Habitatnya yang Berbasis Masyarakat |
| 5 | Nomor Laporan | 01 |
| 6 | Periode Waktu | 1 Februari 2016 – 31 Juli 2016 (6 bulan) |
| 7 | Disampaikan Oleh | Hermanus Herimanto Mau (Koordinator Proyek) |
| 8 | Tanggal Penyampaian | 31 Juli 2016 |
| 9 | Laporan Brikutnya | Februari 2017 |
| 10 | Hibah CEPF | Nilai kontrak: 259.380.000/USD 20.000 |
| 11 | Kontribusi Mitra | Berupa in kind meliputi alokasi staff 4 orang, kantor, fasilitas pendukung kerja lainnya |
| 12 | Kontribusi Donor Proyek Lain | Biaya Listrik dan internet kantor |
| 13 | Periode Proyek | 1 Februari 2016 – 31 Januari 2017 |
| 14 | Lembaga Pelaksana (Mitra) | Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (JPIC) Provinsi SVD Ruteng |
Dalam kerjasama proyek antara JPIC SVD Ruteng sebagai mitra pelaksana dan Lembaga Burung Indonesia sebagai Pendukung kelancaran Proyek, telah disepakati sebanyak 33 kegiatan yang harus dilaksanakan dan diimplementasikan sesuai rancangan LFA. Dalam periode 6 bulan mulai Februari 2016 sampai Juli 2016, sudah terlaksana 8 kegiatan dan menyisakan 25 kegiatan (Laporan Q1 dan Q2). Sebanyak 8 kegiatan yang telah dilaksanakan sudah mencapai hasil sesuai yang tercantum dalam LFA.
Dari 8 kegiatan yang telah dilaksanakan di tiga desa sasaran, ada beberapa capaian yang telah didapat yakni pertama, masyarakat di tiga desa mengetahui potensi sumber daya yang ada di desa masing-masing dan sepakat untuk membuat satu produk peraturan Perlindungan Komodo dan Habitatnya di desa masing-masing. Dalam proses mencapai hasil tersebut, telah dilakukan rangkain kegiatan seperti Sosialisasi Gagasan di tiga desa sasaran.
Capaian kedua, telah dikumpulkannya potensi ruang, potensi sumberdaya, tantangan dan peluang yang ada di tiga desa terkait konten peraturan desa Perlindungan Komodo dan Habitatnya. Demi mencapai hasil tersebut, telah dilakukan rangkaian kegiatan seperti sosialisasi gagasan untuk menyebarkan informasi kepada masyarakat desa terkait Komodo dan Habitatnya, dan menginformasikan rangkaian proses penyusunan draft peraturan desa.Selanjutnya dilakukan kegiatan Kajian Partisipatif untuk memetakan masalah, ruang, dan potensi multi sumberdaya di tiga desa. Capaian awal ini telah berkontribusi 25% untuk tujuan akhir proyek.
Capaian ketiga, terbentuknya kelompok konservasi di desa Golo Lijun dan Nampar Sepang. Kedua desa ini sudah memiliki kelompok dampingan JPIC SVD Ruteng sejak tahun 2013. Dari segi pemberdayaan, kelompok ini telah tergabung dalam koperasi SOVERDIA, dan sejak awal diarahkan untuk memperkuat jaringan kerja perlindungan lingkungan hidup di daerah ini.Karena itu, Kegiatan pembentukan kelompok ini dilaksanakan untuk memperkuat dua kelompok yang sudah ada dan mengarahkan mereka secara khusus untuk melakukan perlindungan terhadap Komodo dan habitatnya yang terdapat di dalam wilayah kedua desa tersebut. Kelompok di desa Golo Lijun dengan nama kelompok Golo tangguh memiliki jumlah anggota 76 orang (45 laki-laki dan 31 perempuan), dan kelompok Letong Doa di desa Nampar Sepang dengan jumlah anggota 127 orang (87 laki-laki dan 40 perempuan). Selain melakukan konservasi dan perlindungan terhadap Komodo dan Habitatnya di desa masing-masing, kelompok juga aktif di bidang pemberdayaan ekonomi seperti koperasi, tenun dan pertanian organic. Kegiatan koperasi rutin dibuat setiap bulan pada saat hari transaksi (Tanggal 20 dan 21 dalam bulan), beberapa kaum perempuan di setiap kelompok telah meminjam di koperasi untuk usaha menenun.
Meski demikian, terdapat beberapa kegiatan dalam periode tengah proyek ini yang belum diimplementasikan/dilaksanakan yakni kegiatan penyusunan draft di tiga desa, konsultasi draft tingkat dusun di tiga desa, pembentukan kelompok di desa Nanga Mbaur, dan pelatihan pertanian berkelanjutan di tiga desa. Penyebab belum dilaksanakannya beberapa kegiatan di atas yakni kurangnya komunikasi antara pemerintah desa dan tim JPIC SVD. Hal ini juga adalah karena kelalaian dari JPIC SVD sebagai mitra pelaksana. Selain itu, jadwal agenda pemerintah desa yang padat baik di tingkat desa, kecamatan maupun kabupaten sehingga menyebabkan beberapa kegiatan tertunda. Untuk menindaklanjuti beberapa kegiatan yang belum terlaksana di atas, maka telah disepakati untuk diselesaikan pada bulan ke 7 dan 8 (Agustus-September 2016). Jika beberapa kegiatan yang tertunda sudah terlaksana dan mencapai hasil, maka kegiatan lain bisa terlaksana seperti finalisasi draft pada bulan ke 10 dan minimal 30 orang berpartisipati sebagai anggota tetap dalam kelompok di akhir semester. Sejauh ini belum ada tantangan serius yang dihadapi dalam implementasi program, hanya saja karena kelalain tim JPIC dan tersumbatnya kran komunikasi antara pemerintah desa dan JPIC SVD.
Dalam perjalanan periode awal proyek ini, telah tampak kesadaran dan pengetahuan masyarakat di tiga desa untuk melindungi Komodo dan Habitatnya di desa masing-masing, dan di lahan pertanian yang sering dilalui komodo. Selain itu, tingkat perburuan di kawasan hutan semakin berkurang, tidak adanya pembukaan lahan pertanian baru (meskipun masih ada aktivitas penggalian batu di sekitar kawasan wisata Watu Pajung), serta adanya system yang kuat dalam masyarakat untuk melakukan konservasi melalui wadah kelompok yang telah ada.
Setelah mengevaluasi dan menilai beberapa kegiatan yang sudah terlaksana dan belum terlaksana, maka penting untuk menentukan target di sisa periode program ini. Pada output 1 “Terbangunnya kesepakatan masyarakat dan para pihak tentang pelestarian komodo dan habitatnya yang terintegrasi ke dalam rencana pengelolaan kawasan ekosistem esensial Pota oleh BKSDA dan pemerintah daerah” harus sudah tercapai di bulan ke 10 (November 2016). Demikianpun dengan output 2 “Terbangunnya kapasitas lokal dalam pengelolaan SDA secara berkelanjutan di KBA Pota (Perlindungan habitat komodo, pertanian berkelanjutan, dan pemberdayaan ekonomi mikro)” mencapai hasil yang maksimal. Beberapa aktivitas yang belum diimplementasikan dalam periode yang lalu (Februari 2016 – Juli 2016) sedapat mungkin dilaksanakan sesuai rencana bersama Tim JPIC, pemerintah desa, dan masyarakat agar outputnya dapat tercapai.
Sebelum proyek ini berjalan di awal tahun 2016, aktivitas pembukaan lahan pertanian baru dan tebas bakar pada musim kemarau sering dilakukan masyarakat sekitar kawasan. Dan, sampai periode ini, aktivitas tebas bakarsudah berkurang mencapai 15 %. Indicator ini belum tercapai sepenuhnya, sebab masih ada warga yang menggali batu di sekitar lereng Watu Pajung untuk dijual dan juga masih ada sebagian kecil warga yang melakukan aktivitas tebas bakar pada musim kemarau.
Indicator ini tercapai 25% di bulan ke 6 karena tingkat perburuan terhadap Komodo dan makanan Komodo semakin berkurang. Bahkan hanya ada satu kasus perburuan liar oleh warga Ngada di desa Nanga Mbaur pada bulan Mei 2016.
Indicator ini belum tercapai dalam satu semester proyek (6 bulan), namun beberapa aktivitas sudah dilakukan demi mencapai kesepakatan final pada bulan ke 10.
Aktivitas ini belum terlaksana semuanya, tetapi kegiatan sosialisasi dan Kajian sudah dilaksanakan di tiga desa.
Aktivitas ini belum terlaksana karena implementasinya pada bulan ke 11.
Aktivitas ini belum terlaksana karena implementasinya pada bulan ke 11.
Indicator ini hampir tercapai dengan melihat jumlah peserta setiap kegiatan di tiga desa sasaran. Akumulasi jumlah peserta masyarakat di tiga desa yang mengikuti setiap kegiatan selama periode Februari 2016 – Juli 2016 sebanyak 319 orang/mencapai 91%.
Indicator ini belum tercapai sepenuhnya dalam periode semester ini.
Aktivitas ini belum dilaksanakan pada periode semester ini
Aktivitas ini belum dilaksanakan pada bulan ke 6.
Aktivitas ini sudah dilaksanakan di desa Golo Lijun dan Nampar Sepang.
Dalam implementasi beberapa program periode tengah proyek, semua kegiatan berhasil dilaksanakan dan berjalan baik diantaranya, sosialisasi gagasan dan kajian partisiptif di tiga desa. Partisipasi masyarakat dalam mengikuti dua kegiatan ini sangat tinggi. Sosialisasi dan kajian di desa Nanga Mbaur dilakukan di kantor desa dan banyak masyarakat yang antusias mengikutinya. Selain dilakukan di kantor desa, sosialisasi dan kajian dilakukan di halaman kampung Nazareth (Desa Nampar Sepang) dan di halaman rumah bapak Martinus Japung (Desa Golo Lijun) yang menjadi salah satu basis pertemuan masyarakat desa. Selain memiliki halaman yang luas, masyarakat juga bebas berekspresi dan berpendapat. Pemilihan tempat sosialisasi di luar kantor desa merupakan satu strategi jitu mengundang banyak masyarakat hadir dan bebas berkespresi.
Meskipun demikian, dalam kegiatan Kajian Partisipatif di tiga desa, tingkat partisipasi kaum perempuan masih sangat sedikit. Berdasarkan testimoni masyarakat, kebanyakan kaum perempuan beraktivitas di ladang, sawah, dan menenun sejak pagi hingga sore hari. Selain itu, ada dugaan sementara bahwa salah satu sebab rendahnya partisipasi kaum perempuan karena situasi budaya Manggarai yang menekankan superioritas laki-laki dalam segala pertemuan/kegiatan. Untuk mengantisipasi kondisi ini, maka ke depan perlu dibuat kegiatan pada malam hari supaya semakin banyak kaum perempuan yang hadir. Perlu juga dibuat kegiatan di rumah penduduk yang menjadi tempat berkumpul atau basis pertemuan informal masyarakat.
Dalam melaksanakan beberapa kegiatan periode tengah proyek ini, telah terjadi beberapa perubahan pada kondisi politik, ekonomi, dan sosial-kemasyarakatan. Pertama, sejak tahun 2010, pemerintah kabupaten Manggrai Timur hingga pemerintah tingkat desa cenderung menjadi lawan dari kerja-kerja JPIC khususnya isu lingkungan (pertambangan). Pemerintah cenderung membela korporasi tambang dan mengelak misi JPIC SVD. Tetapi dengan perubahan pendekatan, pemerintah sekarang lebih mendukung kerja-kerja JPIC SVD, dan berkolaborasi memajukan desa.
Kedua,perubahan kondisi sosial ekonomi yakni keterlibatan masyarakat dalam kelompok dan berkoperasi. Sejauh ini, hampir setiap bulan terjadi penambahan anggota sebesar 5 orang di kelompok Golo Tangguh dan Letong Doa.Ketiga, dalam konteks sosial-kemasyarakatan, ada perubahan dari cara berpikir ekslusif kepada cara berpikir inklusif terhadap kehadiran orang baru/lembaga baru. Awalnya di desa Nanga Mbaur yang mayoritas beragama Muslim sulit menerima kehadiran JPIC SVD Ruteng sebagai satu lembaga Gereja Katolik. Adanya resistensi menyebabkan sikap pesimistik awal dari tim JPIC SVD Ruteng. Namun setelah disosialisasikan dan diinformasikan terkait visi, misi, dan program dalam kegiatan Sosialisasi dan Kajian Partisipatif, masyarakat akhirnya dapat menerima kehadiran JPIC SVD Ruteng dan berbagai programmnya. Bahkan pemerintah desa Nanga Mbaur dan masyarakatnya meminta kepada JPIC SVD Ruteng untuk membantu kegiatan reboisasi di pesisir pantai desa Nanga Mbaur. Bahan dari kegiatan ini sedang disiapkan oleh JPIC SVD Ruteng dalam kerjasama dengan Dinas Kehutanan Manggarai Timur terkait persediaan anakan /bibit pohon. Dengan demikian, kehadiran JPIC SVD Ruteng dirasa sangat membantu masyarakat desa Nanga Mbaur dan kedua desa lainnya.
Dalam melaksanakan program kegiatan Perlindungan Komodo dan Habitatnya antara JPIC SVD Ruteng dengan pemerintah dan masyarakat desa Golo Lijun, Nampar Sepang, dan Nanga Mbaur, terdapat beberapa hal yang menjadi kekuatan dan juga ada hal yang menjadi kelemahan. Salah satu kekuatan adalah misi lintas batas dari JPIC SVD Ruteng untuk membantu masyarakat tanpa membedakan suku, agama, ideology politik, dab budaya. Semangat misi ini sangat membantu JPIC SVD Ruteng dalam mengimplementasikan program Perlindungan Komodo dan Habitatnya selama satu semester (Februari 2016 – Juli 2016) di tiga desa sasaran. Dengan pendekatan bottom up, JPIC SVD Ruteng mampu mengajak banyak masyarakat di tiga desa untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan dan mencapai hasil sesuai yang diharapkan.
Kelemahan yang tampak adalah tersumbatnya kran komunikasi yang menjadi kendala bagi kelancaran implementasi proyek.Sisi kelemahan ini menjadi bahan evaluasi JPIC SVD Ruteng kedepannya agar segala aktivitas program bisa dilaksanakan sesuai target dan mencapai hasil yang maksimal.***